banner 728x250

27 Bus Listrik Trans Semarang Mulai Beroperasi

Armada berlantai rendah berkapasitas hingga 60 penumpang menjadi bagian peremajaan transportasi publik Kota Semarang.

banner 120x600
banner 468x60

TitikJateng mencatat transportasi publik Kota Semarang memasuki fase elektrifikasi setelah pemerintah kota meluncurkan 27 bus listrik Trans Semarang pada 23 September 2026. Armada baru tersebut akan mulai melayani penumpang secara bertahap pada Jumat, 25 September, dengan Koridor I Terminal Mangkang–Terminal Penggaron sebagai rute pertama. Pemerintah menargetkan seluruh unit dapat beroperasi penuh sebelum akhir tahun.

Peluncuran berlangsung dalam rangkaian Hari Perhubungan Nasional di Balai Kota Semarang. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti bersama jajaran pemerintah kota turut mencoba armada setelah peresmian.

banner 325x300

Kehadiran 27 unit tersebut menjadi bagian dari agenda peremajaan Trans Semarang yang lebih luas.

Pemerintah menargetkan lebih dari seratus kendaraan dalam jaringan transportasi kota mendapat pembaruan pada 2026 sehingga secara bertahap bus yang menghasilkan emisi lebih tinggi dapat diganti.

Koridor Mangkang–Penggaron Jadi Rute Pertama

Koridor I dipilih sebagai jalur awal pengoperasian bus listrik.

Rute ini menghubungkan Terminal Mangkang di wilayah barat dengan Terminal Penggaron di sisi timur Kota Semarang.

Jalur tersebut memiliki nilai penting karena melintasi wilayah perkotaan dengan pergerakan penumpang yang tinggi.

Bus baru menggunakan desain low deck sepanjang sekitar 12 meter.

Kapasitas maksimalnya mencapai sekitar 60 penumpang dan rancangan lantai rendah ditujukan untuk mempermudah akses pengguna dengan mobilitas terbatas, termasuk penyandang disabilitas.

Melalui armada listrik baru, pemerintah juga ingin menunjukkan bahwa kendaraan listrik dapat digunakan bukan hanya untuk mobil pribadi, tetapi juga untuk angkutan umum dengan jam operasional panjang.

Baterai Disebut Mampu Menempuh Sekitar 250 Kilometer

Laporan dari produsen karoseri menyebut bus menggunakan baterai berkapasitas sekitar 340 kWh.

Jarak tempuhnya diklaim bisa mencapai sekitar 250 kilometer dalam kondisi operasional yang sesuai.

Skema yang disiapkan memungkinkan pengisian daya dilakukan sebelum kendaraan mulai beroperasi sehingga bus tidak harus berhenti berkali-kali hanya untuk mengisi baterai.

Meski demikian, jarak tempuh aktual kendaraan listrik sangat bergantung pada kondisi lalu lintas, penggunaan pendingin udara, jumlah penumpang, kontur jalan, usia baterai, dan pola mengemudi.

Angka 250 kilometer karena itu lebih tepat dibaca sebagai kapasitas operasi yang disampaikan produsen, bukan jarak pasti pada setiap hari pelayanan.

Kesehatan baterai juga menjadi perhatian.

Produsen menganjurkan pengisian dilakukan sebelum kapasitas benar-benar habis agar siklus baterai lebih terjaga.

Emisi Langsung dan Kebisingan Lebih Rendah

Perbedaan utama bus listrik dibanding kendaraan diesel berada pada sistem penggeraknya.

Bus tidak menghasilkan emisi gas buang langsung dari knalpot ketika beroperasi.

Suara motor listrik juga cenderung lebih rendah dibanding mesin pembakaran internal.

Dua karakter tersebut dapat memberi manfaat pada koridor perkotaan yang dilalui angkutan umum dalam frekuensi tinggi.

Namun, kendaraan listrik tidak otomatis membuat seluruh dampak lingkungan hilang.

Sumber listrik, produksi baterai, pengelolaan baterai setelah masa pakai, serta efisiensi sistem pengisian tetap menjadi bagian dari perhitungan keberlanjutan.

Bagi kota, manfaat terdekat yang paling mudah dirasakan adalah berkurangnya emisi langsung pada jalan yang dilalui bus.

Peremajaan Tidak Bisa Dilakukan Sekaligus

Pemkot Semarang memilih melakukan pergantian armada secara bertahap.

Agustina menyatakan bus yang masih menghasilkan asap tebal perlu mendapat perhatian dan masyarakat dapat melaporkan kendaraan yang dinilai menghasilkan emisi berlebihan.

Armada lama kemudian bisa masuk prioritas evaluasi maupun peremajaan.

Strategi bertahap diperlukan karena jaringan Trans Semarang memiliki ratusan kendaraan.

Mengganti semuanya dalam satu waktu membutuhkan biaya besar, kesiapan stasiun pengisian, tenaga teknis, serta penyesuaian operasional.

Ada satu data yang perlu dicatat pembaca.

ANTARA menyebut total armada Trans Semarang mencapai 284 unit, sementara laporan Halo Semarang menuliskan 280 unit. Keduanya sama-sama menyebut 132 kendaraan masuk agenda peremajaan dan 27 di antaranya berupa bus listrik. Perbedaan empat unit pada angka total perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada Pemkot Semarang sebelum digunakan sebagai data final.

Penumpang Menjadi Penentu Keberhasilan

Elektrifikasi transportasi umum tidak cukup hanya dengan menghadirkan kendaraan baru.

Bus harus mempunyai jadwal yang bisa diandalkan, waktu tunggu wajar, halte yang mudah dijangkau, dan pengalaman perjalanan yang nyaman.

Apabila pelayanan meningkat, masyarakat memiliki alasan lebih kuat untuk meninggalkan kendaraan pribadi pada sebagian perjalanan.

Perubahan perilaku tersebut justru dapat memberi dampak lebih besar terhadap kemacetan serta konsumsi energi perkotaan.

Satu bus mampu membawa puluhan orang dalam satu perjalanan.

Jika jumlah penumpangnya tinggi, kebutuhan kendaraan individual pada jalur yang sama dapat berkurang.

Sebaliknya, bus modern yang berjalan dengan penumpang sangat sedikit tidak akan mencapai manfaat transportasi secara optimal.

Infrastruktur Pengisian Jadi Pekerjaan Penting

Armada listrik membawa kebutuhan operasional berbeda.

Depo harus mempunyai daya listrik yang memadai untuk mengisi banyak bus tanpa mengganggu jadwal pelayanan.

Petugas juga perlu memahami prosedur keselamatan tegangan tinggi serta penanganan baterai.

Suku cadang dan dukungan teknis menjadi faktor lain yang menentukan keandalan.

Kendaraan umum bekerja lebih berat daripada kendaraan pribadi karena beroperasi berjam-jam dan menempuh perjalanan berulang setiap hari.

Program elektrifikasi karena itu akan benar-benar diuji setelah bus menjalani pelayanan rutin selama beberapa bulan.

Mulai Bertahap pada 25 September

Pengoperasian perdana dijadwalkan mulai 25 September dan tidak seluruh unit langsung aktif pada hari pertama.

Pemerintah menggunakan fase bertahap untuk menyesuaikan operasional sebelum semua bus masuk layanan penuh.

Bagi penumpang Koridor I, perubahan paling terlihat nantinya berada pada kendaraan yang digunakan.

Rute utama tetap Mangkang–Penggaron, tetapi pengalaman perjalanan mendapat elemen baru berupa bus berlantai rendah, penggerak listrik, dan kabin dengan tingkat kebisingan lebih rendah.

Peluncuran 27 bus ini menjadi langkah awal, bukan akhir transformasi Trans Semarang.

Keberhasilan program akan terlihat dari keandalan armada, kemampuan pengisian daya, biaya pemeliharaan, tingkat keterisian penumpang, dan seberapa jauh kendaraan lama yang lebih berpolusi benar-benar dapat diganti.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *