Titik Jateng mencatat pemerintah pusat mendorong provinsi serta kabupaten dan kota mempercepat penyusunan Desain Olahraga Daerah atau DOD sebagai dasar kebijakan pembangunan olahraga jangka panjang. Dokumen tersebut dinilai penting agar anggaran olahraga daerah tidak hanya berorientasi pada event tahunan, tetapi memiliki arah jelas dalam pembinaan atlet, peningkatan partisipasi masyarakat, penguatan pelatih, serta pembangunan fasilitas.
Dalam penguatan anggaran olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama Kementerian Dalam Negeri meminta pemerintah daerah menjadikan DOD sebagai bagian dari dokumen perencanaan daerah.
DOD Menjadi Peta Jalan Olahraga Daerah
Desain Olahraga Daerah pada dasarnya berfungsi seperti peta jalan.
Pemerintah menentukan cabang prioritas, kebutuhan fasilitas, target partisipasi masyarakat, program pencarian bakat, hingga arah pembiayaan.
Tanpa dokumen semacam itu, program dapat berubah setiap tahun.
Ketika kepala dinas atau kepala daerah berganti, prioritas ikut berubah.
Akibatnya, pembinaan atlet sulit berkelanjutan.
Padahal prestasi olahraga membutuhkan waktu panjang.
Seorang atlet dapat memerlukan lima hingga sepuluh tahun sebelum mencapai level elite.
Anggaran Olahraga Butuh Payung Hukum
Salah satu persoalan yang sering muncul di daerah adalah ketidakpastian anggaran.
Program dapat dianggap bukan prioritas ketika ruang fiskal terbatas.
Dengan DOD yang masuk ke dokumen pembangunan, penganggaran memiliki landasan lebih kuat.
Hal ini bukan berarti seluruh permintaan anggaran otomatis disetujui.
Pemerintah tetap perlu menyesuaikan kemampuan keuangan.
Namun program yang memiliki target jangka panjang lebih mudah dipertahankan.
Pendekatan tersebut membantu mengurangi kebiasaan membangun program hanya menjelang pekan olahraga atau kompetisi besar.
Setiap Daerah Tidak Harus Mengejar Cabang yang Sama
Indonesia memiliki karakter wilayah berbeda.
Daerah pesisir mempunyai potensi olahraga air.
Daerah pegunungan bisa mengembangkan cabang tertentu.
Wilayah dengan tradisi bulu tangkis kuat dapat memperkuat klub dan sekolah.
Karena itu, DOD sebaiknya tidak menjadi dokumen seragam.
Pemerintah perlu memetakan kekuatan lokal.
Riwayat prestasi juga penting.
Jika suatu daerah konsisten menghasilkan atlet pada cabang tertentu, pembinaan dapat diperkuat.
Namun cabang baru juga tetap bisa dikembangkan jika fasilitas dan sumber daya mendukung.
Data Atlet Harus Terintegrasi
Pembinaan sering terganggu karena data atlet tersebar di klub, sekolah, dan organisasi cabang olahraga.
DOD dapat menjadi kesempatan memperbaiki sistem.
Pemerintah daerah perlu memiliki basis data atlet muda.
Prestasi, hasil tes fisik, riwayat cedera, dan perkembangan performa bisa dicatat.
Data membantu menentukan siapa yang membutuhkan dukungan.
Tanpa data, bantuan bisa diberikan berdasarkan kedekatan atau informasi yang tidak lengkap.
Sistem juga dapat membantu federasi mencari atlet potensial.
Pelatih Harus Masuk dalam Perencanaan
Pembangunan olahraga tidak boleh hanya berfokus pada atlet.
Pelatih adalah bagian utama.
Atlet muda yang sangat berbakat bisa berkembang lambat jika metode latihan kurang tepat.
Pemerintah dapat membantu sertifikasi pelatih.
Workshop dan pelatihan rutin juga perlu tersedia.
Pelatih di kabupaten sering memiliki akses lebih sedikit terhadap perkembangan ilmu olahraga.
DOD dapat menetapkan target peningkatan jumlah pelatih bersertifikat.
Hal tersebut membuat pembangunan SDM menjadi bagian resmi dari kebijakan.
Fasilitas Harus Sesuai Kebutuhan
Daerah kadang membangun fasilitas olahraga dengan biaya besar tetapi penggunaannya rendah.
Masalah bisa terjadi karena lokasi terlalu jauh, desain tidak sesuai kebutuhan cabang, atau biaya pemeliharaan terlalu tinggi.
Perencanaan berbasis DOD dapat membantu mencegah kondisi tersebut.
Fasilitas harus mengikuti kebutuhan nyata.
Jika daerah mempunyai ribuan pemain sepak bola usia muda, lapangan latihan mungkin lebih penting daripada stadion sangat besar.
Jika masyarakat membutuhkan tempat olahraga harian, taman aktif dan lintasan lari dapat memberi manfaat luas.
Olahraga Prestasi dan Masyarakat Harus Seimbang
Olahraga daerah tidak hanya menghasilkan atlet.
Masyarakat juga perlu aktif bergerak.
Tingkat aktivitas fisik berhubungan dengan kesehatan.
Pemerintah dapat memasukkan program olahraga masyarakat ke dalam DOD.
Car free day, taman olahraga, senam komunitas, dan liga amatir bisa menjadi bagian.
Pendekatan ini memperluas basis olahraga.
Anak yang mulai bermain karena hobi bisa kemudian ditemukan sebagai atlet berbakat.
Industri Olahraga Bisa Membantu Pembiayaan
Anggaran pemerintah memiliki keterbatasan.
Karena itu, sektor swasta perlu dilibatkan.
Sponsor dapat mendukung kompetisi.
Perusahaan lokal dapat bermitra dengan klub.
Event sport tourism juga dapat menghasilkan aktivitas ekonomi.
Namun hubungan dengan swasta harus transparan.
Pemerintah tetap bertugas menjaga akses publik.
Fasilitas yang dibangun dari uang negara tidak boleh berubah menjadi ruang eksklusif.
Kemendagri Penting karena Mengatur Keuangan Daerah
Keterlibatan Kementerian Dalam Negeri menjadi penting karena penganggaran daerah berada dalam kerangka aturan pemerintah daerah.
Kemenpora dapat menentukan kebijakan olahraga.
Namun pelaksanaan program berada di provinsi, kabupaten, dan kota.
Karena itu, sinkronisasi diperlukan.
Dalam forum kebijakan daerah, pemerintah juga menekankan perlunya peran pemerintah daerah dalam pengawasan dan pengembangan sektor olahraga.
Kolaborasi dua kementerian diharapkan membuat kebijakan tidak berhenti sebagai rekomendasi.
Prestasi Tidak Bisa Dibangun Mendadak
Ketika ada kompetisi besar, perhatian publik biasanya meningkat.
Anggaran tambahan muncul.
Target medali disusun.
Namun prestasi sebenarnya dibangun jauh sebelum kompetisi.
Atlet membutuhkan nutrisi, latihan, kompetisi rutin, dan dukungan medis.
Jika program hanya aktif menjelang event, hasil sulit konsisten.
DOD seharusnya memaksa pemerintah berpikir lebih panjang.
Target empat atau delapan tahun lebih relevan daripada hanya satu tahun anggaran.
Evaluasi Harus Dilakukan Secara Terukur
Setiap program perlu indikator.
Jumlah medali bukan satu-satunya ukuran.
Pemerintah bisa melihat peningkatan atlet usia muda, jumlah pelatih bersertifikat, partisipasi masyarakat, penggunaan fasilitas, serta jumlah kompetisi rutin.
Evaluasi membantu mengetahui program mana yang efektif.
Jika fasilitas jarang digunakan, penyebabnya perlu dicari.
Jika atlet potensial pindah ke daerah lain, sistem pembinaan harus dievaluasi.
DOD Bisa Mengurangi Politik Anggaran Jangka Pendek
Olahraga sering bergantung pada perhatian pejabat tertentu.
Ketika pejabat berganti, program berhenti.
Dokumen resmi dapat mengurangi ketergantungan tersebut.
Selama DOD masuk ke rencana pembangunan, penerus memiliki acuan yang sama.
Perubahan tetap bisa dilakukan.
Namun harus berdasarkan evaluasi, bukan sekadar preferensi.
Tantangan Ada pada Implementasi
Membuat dokumen relatif mudah.
Tantangan sebenarnya adalah melaksanakannya.
DOD tidak boleh menjadi berkas yang hanya disimpan setelah disahkan.
Target perlu diterjemahkan menjadi program tahunan.
Anggaran harus tersedia.
Organisasi olahraga juga perlu ikut bertanggung jawab.
Jika pusat, daerah, klub, sekolah, dan komunitas mampu bekerja dalam arah yang sama, pembinaan olahraga Indonesia dapat menjadi lebih konsisten.
Desain Olahraga Daerah memberi kerangka untuk mencapai hal tersebut.
Keberhasilannya akan terlihat beberapa tahun lagi dari seberapa banyak atlet berkembang dan seberapa luas masyarakat menggunakan olahraga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

















