TitikJateng mencatat pasar kendaraan listrik Indonesia memasuki fase pertumbuhan baru setelah populasi kendaraan berbasis listrik mencapai 541.678 unit hingga Agustus 2026. Jumlah tersebut memperlihatkan peningkatan kuat dibandingkan 2025 yang mencatat sekitar 406.916 unit. Perubahan tidak hanya terlihat dari banyaknya kendaraan di jalan, tetapi juga melalui penjualan mobil listrik yang semakin mampu bersaing dengan kendaraan bermesin konvensional.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan pertumbuhan kendaraan listrik berlangsung semakin cepat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020, jumlah kendaraan listrik masih sekitar 3.584 unit. Setahun kemudian jumlahnya meningkat menjadi 14.980 unit, lalu mencapai 42.605 unit pada 2022. Lonjakan semakin terlihat pada 2023 ketika populasinya menyentuh 122.115 unit.
Pada 2024 jumlah tersebut kembali naik menjadi 243.080 unit. Selanjutnya, populasi kendaraan listrik mencapai 406.916 unit sepanjang 2025 sebelum berkembang menjadi 541.678 unit sampai Agustus 2026. Artinya, terdapat tambahan lebih dari 134 ribu kendaraan hanya dalam kurun waktu delapan bulan tahun ini.
Harga BBM Ikut Mendorong Peralihan
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Setia Diarta menilai beberapa faktor mendorong pertumbuhan tersebut. Salah satunya berasal dari kondisi harga bahan bakar serta perkembangan geopolitik yang membuat konsumen semakin mempertimbangkan biaya penggunaan kendaraan.
Selain faktor biaya, komitmen menuju net zero emission juga memperkuat perkembangan kendaraan listrik. Produsen mulai menawarkan lebih banyak pilihan, sedangkan konsumen mendapat alternatif kendaraan yang sebelumnya hanya tersedia dalam jumlah terbatas.
Perubahan tersebut mulai terlihat jelas dalam data penjualan. Mobil listrik berbasis baterai atau BEV mencatat penjualan sekitar 17.413 unit sepanjang Agustus 2026. Angka tersebut menjadi salah satu capaian bulanan tertinggi tahun ini.
Secara kumulatif, penjualan BEV pada Januari hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 101.171 unit. Jumlah tersebut tumbuh sekitar 69,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Januari–Agustus 2025, penjualan EV tercatat sekitar 50.749 unit.
Mobil Listrik Mulai Kuasai Daftar Terlaris
Perubahan paling menarik terjadi pada daftar mobil terlaris Agustus. BYD Atto 1 mencatat wholesales sekitar 5.538 unit dan berhasil menempati posisi teratas penjualan mobil Indonesia pada bulan tersebut.
Posisi itu membuat mobil listrik tidak lagi hanya bersaing di segmen EV. Atto 1 sudah berhadapan langsung dengan kendaraan populer seperti Toyota Avanza, Kijang Innova, hingga Daihatsu Gran Max.
Jaecoo J5 juga mencatat performa kuat dengan sekitar 3.214 unit pada Agustus. Sementara Geely EX2 membukukan sekitar 1.595 unit. Secara keseluruhan, persaingan mobil listrik semakin padat karena produsen menawarkan variasi harga, ukuran kendaraan, fitur, dan teknologi yang berbeda.
Data Januari–Agustus memperlihatkan Jaecoo J5 menjadi salah satu model EV paling laris dengan akumulasi sekitar 23.359 unit. BYD Atto 1 mengikuti dengan 19.909 unit, sedangkan Geely EX2 berada pada kisaran 9.769 unit.
BYD Perkuat Produksi Lokal
Persaingan pasar semakin menarik setelah sejumlah produsen mulai memperluas investasi manufaktur di Indonesia. Salah satu perkembangan besar datang dari BYD, yang mencatat lebih dari 40.700 unit penjualan kendaraan elektrifikasi sampai Agustus 2026 menurut keterangan perusahaan pada GIIAS Bandung.
Produsen asal China tersebut juga mulai mengalihkan pemenuhan pasar dari impor kendaraan utuh menuju produksi lokal melalui fasilitas di Subang, Jawa Barat. Langkah tersebut berpotensi memberi pengaruh besar terhadap struktur biaya, pasokan kendaraan, serta pengembangan komponen lokal.
Sebelum produksi lokal berjalan, BYD mengandalkan kendaraan completely built up dari China. Data sebelumnya mencatat impor BYD sejak 2024 hingga Juli 2026 mencapai hampir 95 ribu kendaraan. Kehadiran fasilitas produksi dalam negeri kemudian membuka fase baru karena perusahaan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan kendaraan jadi dari luar negeri.
Merek China Mengubah Peta Persaingan
Dominasi merek Jepang selama puluhan tahun mulai menghadapi tekanan dari pemain baru. Data penjualan Agustus menunjukkan merek China mencatat wholesales sekitar 19.177 unit, sedangkan retail sales berada di kisaran 18.815 unit.
BYD memimpin kelompok produsen China dengan wholesales sekitar 7.870 unit pada Agustus. Jaecoo menyusul dengan 3.300 unit, kemudian Geely sekitar 2.121 unit. Wuling, GAC Aion, Chery, Xpeng, iCAR, MG, dan Jetour juga memperkuat persaingan.
Secara keseluruhan, pasar mobil Indonesia juga menunjukkan pemulihan. Wholesales Agustus mencapai 81.756 unit atau naik sekitar 0,8 persen dibandingkan Juli yang mencatat 81.115 unit. Dibandingkan Agustus tahun sebelumnya, pertumbuhannya mencapai sekitar 32,4 persen.
Tantangan Tidak Hanya Soal Penjualan
Pertumbuhan cepat EV membawa tantangan baru. Infrastruktur pengisian daya perlu berkembang sejalan dengan jumlah kendaraan. Konsumen di kota besar relatif mudah menemukan SPKLU, tetapi situasinya belum selalu sama ketika perjalanan memasuki daerah yang jaringan pengisiannya terbatas.
Industri juga menghadapi persoalan pengelolaan baterai. Ketika populasi EV mencapai ratusan ribu unit, kebutuhan daur ulang baterai dan pengelolaan komponen setelah masa pakai akan semakin besar. Produsen, pemerintah, dan industri pendukung perlu membangun rantai pasok yang tidak berhenti pada penjualan kendaraan baru.
Selain itu, tingkat komponen dalam negeri menjadi faktor penting. Produksi lokal memberi peluang bagi industri baterai, elektronik, ban, komponen bodi, hingga berbagai pemasok untuk masuk ke ekosistem kendaraan listrik.
Tren sepanjang 2026 menunjukkan kendaraan listrik mulai bergerak dari pasar khusus menuju pasar massal. Konsumen sekarang memiliki lebih banyak pilihan harga dan model, sementara produsen berlomba memperkuat jaringan serta produksi lokal.
Jika pertumbuhan penjualan bertahan hingga akhir tahun, 2026 berpotensi menjadi salah satu periode penting dalam transformasi industri otomotif Indonesia. Mobil listrik tidak lagi sekadar alternatif kendaraan masa depan, tetapi mulai mengambil porsi nyata dalam persaingan kendaraan yang digunakan masyarakat sehari-hari.













