banner 728x250
Berita  

FTBI Jateng 2026 Dorong Anak Aktif Berbahasa Jawa

Festival menghadirkan tujuh cabang lomba sekaligus mendorong bahasa daerah digunakan di luar ruang kelas.

banner 120x600
banner 468x60

Titik Jateng mencatat Festival Tunas Bahasa Ibu atau FTBI Jawa Tengah 2026 menjadi momentum baru untuk mendorong generasi muda tidak hanya mempelajari bahasa Jawa sebagai muatan lokal, tetapi juga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Festival tingkat provinsi tersebut berlangsung di Kabupaten Semarang pada 9–11 Oktober 2026 dengan peserta berasal dari 35 kabupaten dan kota.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti membuka kegiatan bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Peserta merupakan siswa tingkat SD dan SMP yang sebelumnya menjadi pemenang pada seleksi di daerah masing-masing.

banner 325x300

Menurut Pemprov Jawa Tengah, kegiatan mempertemukan ratusan siswa dan guru pendamping dalam berbagai cabang lomba bahasa serta sastra Jawa.

Bahasa Daerah Tidak Cukup Hanya Dipelajari

Abdul Mu’ti menekankan bahasa daerah tidak boleh berhenti sebagai materi pelajaran.

Pembiasaan menjadi bagian penting dalam menjaga bahasa tetap hidup.

Anak dapat memahami kosakata dan tata bahasa di sekolah, tetapi kemampuan tersebut perlahan hilang apabila tidak pernah digunakan.

Karena itu, keluarga memiliki peran besar.

Percakapan sederhana di rumah dapat membantu anak terbiasa mendengar dan menggunakan bahasa daerah.

Menurut ANTARA Jawa Tengah, penggunaan bahasa ibu juga dapat diterapkan dalam forum warga dan kegiatan pemerintahan sesuai konteks.

Prinsipnya adalah menciptakan ruang penggunaan nyata.

Tujuh Cabang Lomba Dipertandingkan

FTBI menghadirkan berbagai jenis lomba.

Peserta mengikuti kegiatan membaca dan menulis aksara Jawa, mendongeng, berpidato, menulis cerita cekak, membaca geguritan, nembang macapat, serta komedi tunggal.

Variasi cabang tersebut menunjukkan bahasa daerah dapat digunakan dalam berbagai bentuk.

Anak tidak hanya diminta menghafal kosakata.

Mereka harus menyusun ide, tampil di depan publik, memahami sastra, serta menggunakan bahasa secara kreatif.

Komedi tunggal menjadi contoh bagaimana bahasa tradisional dapat masuk ke bentuk hiburan modern.

Format semacam ini penting agar bahasa Jawa tidak selalu diasosiasikan dengan kegiatan yang terasa jauh dari kehidupan generasi muda.

Bahasa Jawa Mengandung Tingkatan Tutur

Salah satu karakter penting bahasa Jawa adalah adanya tingkat tutur.

Pemilihan kata dapat berubah tergantung hubungan antara pembicara dan lawan bicara.

Konsep tersebut dikenal melalui penggunaan ngoko, krama, dan berbagai variasi lain.

Taj Yasin menilai kebiasaan berbahasa Jawa membantu menanamkan tata krama.

Ketika seseorang memilih kata, ia secara tidak langsung belajar mempertimbangkan siapa lawan bicara.

Hal ini membuat bahasa berfungsi lebih luas daripada sekadar alat komunikasi.

Bahasa juga membawa nilai sosial.

Namun pengajaran tata krama sebaiknya tidak membuat anak takut berbicara karena khawatir salah.

Pembelajaran perlu mendorong praktik terlebih dahulu.

Kesalahan dapat diperbaiki secara bertahap.

Momen Dua Siswa Menarik Perhatian

Pembukaan festival menghadirkan momen menarik ketika Taj Yasin mengajak dua siswa menghitung dalam bahasa Jawa.

Lintang dari SD Negeri Grogolsari Pati dan Mayo dari SD Hj Isriati Semarang maju ke depan.

Keduanya sempat keliru setelah melewati angka 20.

Suasana tersebut justru menjadi bagian pembelajaran.

Wakil gubernur kemudian memperbaiki penyebutan dan menawarkan hadiah.

Lintang memilih sepeda.

Mayo memilih uang Rp2 juta yang disebut akan diberikan kepada orang tuanya.

Momen sederhana tersebut memperlihatkan tantangan nyata pelestarian bahasa.

Anak mungkin mengenal bahasa Jawa, tetapi beberapa bagian kosakata tidak lagi digunakan rutin.

Pemprov Pertahankan Kamis Berbahasa Jawa

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih mempertahankan penggunaan bahasa Jawa setiap Kamis.

Kebijakan tersebut bertujuan menciptakan kebiasaan.

Pegawai didorong menggunakan bahasa Jawa dalam komunikasi sesuai situasi.

Langkah seperti ini membuat bahasa daerah tetap hadir di ruang pemerintahan.

Namun efektivitasnya bergantung pada praktik.

Jika penggunaannya hanya menjadi simbol seremonial, dampak terhadap pelestarian akan terbatas.

Bahasa harus digunakan secara alami.

Pegawai yang belum lancar juga perlu diberi ruang belajar.

Ancaman Datang dari Perubahan Kebiasaan

Generasi muda tumbuh di lingkungan bahasa yang semakin kompleks.

Bahasa Indonesia dominan di sekolah dan media nasional.

Bahasa Inggris semakin banyak digunakan dalam teknologi dan hiburan.

Media sosial juga menciptakan campuran kosakata baru.

Kondisi tersebut bukan berarti bahasa lain harus dianggap sebagai ancaman.

Masalah muncul ketika bahasa daerah kehilangan ruang penggunaan sama sekali.

Anak yang tidak pernah mendengar percakapan bahasa Jawa di rumah akan kesulitan menjadikannya bahasa aktif.

Karena itu, keluarga dan komunitas tetap menjadi kunci.

Sekolah dapat mendukung, tetapi tidak dapat bekerja sendiri.

Bahasa Ibu Bisa Membantu Pembelajaran

Kementerian juga menyoroti manfaat bahasa ibu pada tahap awal pendidikan.

Anak cenderung lebih mudah memahami konsep apabila materi dijelaskan menggunakan bahasa yang sudah dikenal.

Pendekatan tersebut terutama relevan di daerah tempat bahasa lokal masih digunakan secara aktif.

Bahasa ibu dapat menjadi jembatan menuju bahasa Indonesia.

Tujuannya bukan menggantikan bahasa nasional.

Sebaliknya, anak dapat memiliki kemampuan multilingual.

Mereka memahami bahasa lokal, bahasa Indonesia, dan kemudian bahasa asing.

Kemampuan seperti ini justru menjadi aset.

Festival Harus Berlanjut ke Kehidupan Sehari-hari

FTBI dapat meningkatkan kebanggaan peserta.

Namun efek festival akan lebih kuat jika praktik berlanjut setelah acara selesai.

Siswa yang menjadi juara dapat dilibatkan dalam komunitas.

Sekolah dapat membuat ruang percakapan atau produksi karya berbahasa Jawa.

Konten digital juga dapat dimanfaatkan.

Video pendek, podcast, cerita, atau komedi bahasa Jawa dapat menjangkau generasi yang sangat aktif di internet.

Pelestarian tidak harus selalu menggunakan format tradisional.

Bahasa dapat hidup melalui media baru selama makna dan penggunaannya tetap dijaga.

FTBI Jawa Tengah 2026 memperlihatkan masih adanya minat kuat dari sekolah dan pemerintah daerah.

Tantangan berikutnya adalah membuat bahasa Jawa benar-benar digunakan, bukan hanya diperlombakan.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *