TitikJateng mencatat pemerintah memulai revitalisasi besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan cakupan 13 titik dan estimasi anggaran sekitar Rp150 miliar. Proyek tersebut bukan sekadar pengecatan atau perbaikan tampilan bangunan. Pemerintah ingin memperbaiki kondisi cagar budaya sekaligus memperkuat fungsi kompleks Keraton sebagai museum, ruang tradisi, pusat kebudayaan, dan salah satu tujuan wisata sejarah utama Kota Solo.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan pemerintah pusat bekerja bersama Pemerintah Kota Surakarta dan keluarga Keraton dalam proses revitalisasi.
Sebagian pekerjaan sudah masuk tahap tender, termasuk penanganan Museum Keraton.
Target pemerintah adalah menyelesaikan pekerjaan utama pada akhir 2026, meskipun konservasi bangunan bersejarah memiliki karakter berbeda dibanding proyek gedung baru.
Sebanyak 13 Titik Masuk Program
Cakupan proyek meliputi berbagai bangunan dan ruang penting dalam kompleks Keraton.
Beberapa titik yang disebut antara lain kawasan Pagelaran, Siti Hinggil, museum, Kasentanan, Panti Pidono, Keraton Kilen, Keputren, Dalem Ageng, Kamandungan, hingga Bangsal Pradangga.
Setiap bangunan mempunyai kondisi berbeda.
Sebagian membutuhkan penanganan atap dan struktur, sementara bagian lain berkaitan dengan konservasi elemen arsitektur maupun penataan fungsi.
Konsep revitalisasi cagar budaya tidak boleh diperlakukan seperti membangun gedung baru.
Bentuk asli, material, nilai sejarah, serta teknik konstruksi lama perlu menjadi pertimbangan utama.
Kesalahan memilih material atau mengubah bentuk terlalu jauh justru dapat menghilangkan nilai yang hendak dilestarikan.
Anggaran Diperkirakan Rp150 Miliar
Pemerintah menyebut kebutuhan anggaran berada di kisaran Rp150 miliar untuk keseluruhan paket revitalisasi.
Jumlah itu mencakup pengerjaan beberapa titik sekaligus sehingga tidak bisa dibaca sebagai biaya renovasi satu gedung.
Lewat program revitalisasi Keraton, pemerintah juga ingin memperbaiki pola pengelolaan setelah proyek fisik berakhir.
Aspek pengelolaan penting karena bangunan bersejarah tetap membutuhkan pemeliharaan rutin.
Renovasi besar dengan biaya tinggi akan kehilangan manfaat apabila beberapa tahun kemudian kerusakan muncul kembali akibat minimnya perawatan.
Beberapa Bangunan Sudah Lama Tak Diperbaiki Besar
Kompleks Keraton memiliki bagian yang berusia ratusan tahun.
Cuaca, kelembapan, usia kayu, kondisi atap, air hujan, serta penggunaan sehari-hari perlahan memengaruhi struktur.
Pemerintah menyebut sebagian area sudah lama tidak mendapat perbaikan menyeluruh.
Situasi tersebut membuat pengerjaan tidak bisa hanya berdasarkan apa yang terlihat dari luar.
Ketika atap atau dinding dibuka, kontraktor konservasi dapat menemukan kerusakan tambahan yang sebelumnya tidak terlihat.
Kondisi sambungan kayu, fondasi, dan sistem drainase juga perlu diperiksa.
Karena itu, pekerjaan cagar budaya kadang membutuhkan penyesuaian ketika proses sudah berjalan.
Museum Menjadi Bagian Penting
Museum Keraton menyimpan benda yang membantu masyarakat memahami perjalanan Surakarta.
Revitalisasi museum seharusnya tidak berhenti pada mempercantik ruangan.
Kondisi suhu, kelembapan, pencahayaan, pengamanan koleksi, serta informasi yang diberikan kepada pengunjung sangat menentukan kualitas museum.
Penataan yang baik dapat membuat koleksi lebih mudah dipahami tanpa mengurangi perlindungannya.
Pengunjung juga membutuhkan alur cerita.
Benda bersejarah akan mempunyai nilai lebih besar apabila masyarakat mengetahui dari periode mana benda berasal, untuk apa digunakan, dan bagaimana kaitannya dengan sejarah Solo.
Bangunan Bukan Satu-satunya Warisan
Keraton merupakan ruang hidup bagi berbagai tradisi.
Musik, tari, upacara, busana, manuskrip, bahasa, dan pengetahuan adat tidak dapat diperbaiki menggunakan semen dan kayu.
Karena itu, pelestarian budaya takbenda perlu berjalan bersama proyek fisik.
Bangunan yang selesai diperbaiki idealnya kembali digunakan sebagai ruang aktivitas.
Jika kompleks hanya menjadi latar foto, sebagian fungsi kebudayaannya akan hilang.
Pemerintah mempunyai kesempatan menggunakan revitalisasi sebagai pintu masuk untuk memperkuat dokumentasi dan regenerasi pelaku budaya.
Tenggat Akhir 2026 Menjadi Tantangan
Target penyelesaian akhir tahun memberi waktu pengerjaan yang cukup ketat.
Proyek biasa mungkin dapat dipercepat dengan menambah tenaga kerja.
Pada cagar budaya, strategi seperti itu tidak selalu cocok.
Setiap tindakan perlu mempertimbangkan nilai sejarah.
Material pengganti harus dipilih dengan hati-hati, terutama ketika berhadapan dengan unsur lama yang masih dapat dipertahankan.
Jika ditemukan kerusakan tambahan, kualitas konservasi sebaiknya tidak dikorbankan hanya untuk mengejar tanggal peresmian.
Pemerintah perlu terbuka apabila sebagian pekerjaan membutuhkan waktu lebih panjang.
Solo Bisa Mendapat Efek Ekonomi
Keraton berada di kawasan strategis wisata Solo.
Tidak jauh dari kompleks terdapat Pasar Klewer, Masjid Agung, Alun-alun, dan sejumlah destinasi lain.
Keraton yang lebih tertata berpotensi meningkatkan lama kunjungan wisatawan.
Dampaknya dapat menyebar ke pemandu wisata, kuliner, hotel, transportasi, pedagang suvenir, hingga pelaku UMKM.
Namun, pariwisata juga harus dikendalikan agar tidak menjadi tekanan baru bagi bangunan.
Area sensitif mungkin membutuhkan batas jumlah pengunjung atau jalur yang sudah ditentukan.
Tata Kelola Menjadi Ujian Sesungguhnya
Menteri Kebudayaan menekankan perlunya pengelolaan profesional yang melibatkan pemerintah dan pihak Keraton.
Pembagian tugas menjadi penting.
Harus jelas siapa bertanggung jawab terhadap pemeliharaan fisik, pengelolaan museum, kegiatan budaya, tiket, keamanan, serta penggunaan ruang.
Sistem yang kabur dapat menimbulkan persoalan setelah dana proyek habis.
Revitalisasi juga perlu menjaga hubungan antara fungsi publik dan nilai historis Keraton.
Tidak semua ruang harus dibuka untuk wisatawan jika terdapat alasan tradisi atau konservasi untuk membatasinya.
Informasi dari ANTARA Jateng menunjukkan proyek ini diarahkan sebagai langkah pelestarian sekaligus optimalisasi potensi budaya nasional.
Ukuran keberhasilannya karena itu tidak cukup dinilai saat peresmian.
Keraton baru dapat disebut benar-benar direvitalisasi jika bangunannya bertahan, koleksinya terlindungi, tradisinya tetap berjalan, pengunjung memperoleh pengalaman yang lebih baik, dan sistem pemeliharaan mampu bekerja bertahun-tahun setelah proyek Rp150 miliar tersebut selesai.













